Rabu, 04 Januari 2012

Berbuat Yang Terbaik


Markus 14:3-9


Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan perbuatan yang baik padaKu." (Markus 14:6)


Dalam konteks diatas diceritakan ada seorang perempuan yang memberikan sesuatu yang terbaik dalam kehidupannya kepada Tuhan Yesus yaitu mencurahkan minyak wangi kepada Tuhan Yesus, minyak ini sangat mahal yaitu seharga 300 dinar, ini sama dengan hasil kerja selama setahun. Dari konteks ini dapat diambil suatu pelajaran bahwa itulah suatu perbuatan yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita, yaitu memberikan yang terbaik kepada Tuhan dengan apa yang kita miliki, sekalipun ada orang yang tidak menyukai perbuatan kita (ayat 4 "Ada orang yang menjadi gusar…"), bahkan ada yang marah (ayat 5 "…lalu mereka memarahi perempuan itu.") kita tidak perlu kuatir ataupun takut karena kita melakukannya dengan hati yang tulus kepada Tuhan, bukan kar'na supaya mendapatkan pujian semata, tetapi karena kerinduan dari hati kita. Mengapa kita tidak perlu kuatir ataupun takut akan hal ini? Karena Tuhan senantiasa membela orang yang memberikan yang terbaik kepadaNya (ayat 6 "Tetapi Yesus berkata: Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik kepadaKu") apapun bentuknya Tuhan tidak mempermasalahkannya, karena apa yang kita perbuat itu untuk kemuliaan nama Tuhan (ayat 9 "…apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia").
Dalam I Korintus 15:58 mengatakan "…Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." Hal ini berarti segala perbuatan yang kita lakukan untuk kemuliaan nama Tuhan tidak ada yang sia-sia belaka, tetapi semuanya itu diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan ingin supaya kita berusaha untuk memberikan yang terbaik kepadaNya walaupun dalam keadaan yang berkekurangan. Disini ada tiga contoh yang diberikan, antara lain:
  1. Seorang janda di Sarfat → I Raja-raja 17:13-15
    Meskipun semua yang dimilikinya serba sedikit, ia tetap memberikan yang terbaik dengan apa yang ada padanya, sehingga Tuhan mencukupkannya selama tiga setengah tahun.
  2. Anak dengan lima roti dan dua ikan → Yohanes 6:9-10
    Seorang anak ini memberikan kepada Tuhan semua yang dimilikinya, sehingga Tuhan memberkatinya hingga berkelimpahan, yakni dua belas keranjang.
  3. Jemaat di Makedonia → II Korintus 8:1-5
    Sekalipun jemaat di Makedonia ini dalam keadaan yang miskin, menderita dan dalam pencobaan, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaan Tuhan bahkan apa yang diberikan lebih dari apa yang diperlukan, semuanya dilakukan untuk kemuliaan nama Tuhan.
Orang yang melakukan kehendak Bapa pasti ingin selalu melakukan/memberikan yang terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan maka dengan demikian ia akan diselamatkan (Matius 7:21-23 "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam kerajaan sorga. Melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga…"), karena manusia dibenarkan dihadapan Tuhan bukan hanya kerena imannya saja tetapi juga karena perbuatannya (Yakobus 2:24) dan segala perbuatan kita akan selalu mengikuti kita, bahkan sampai mati pun (Wahyu 14:13 "…karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.")
Oleh sebab itulah jika kita mengaku sebagai anak Allah dan memiliki iman kepada Allah hendaknya kita berusaha untuk melakukan/memberikan yang terbaik kepada Tuhan, karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yakobus 2:17).

Garam Dunia


"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
(Matius 5:13)
Setiap kehidupan manusia tidak terlepas dari garam. Tidak membedakan miskin, kaya, tua, muda, dan apapun latar belakang dan tingkatan sosialnya, garam selalu dibutuhkan di setiap harinya. Disini Firman Tuhan mengatakan bahwa "kamu adalah garam dunia," berarti kehidupan kita harus memiliki 'dampak' bagi sekitar kita, karena garam memiliki sifat khusus yaitu asin.
Dalam Alkitab dijelaskan bahwa garam memiliki berbagai fungsi, antara lain: berfungsi sebagai obat yaitu menyehatkan air (II Raj. 2: 20-21), sebagai pelengkap korban persembahan kepada Tuhan (Yehez. 43:24), bahkan semua persembahan harus dibubuhi dengan garam (Imamat 2:13) dan disini ditekankan bahwa tidak boleh lalai dalam memberikan garam pada setiap persembahan kepada Tuhan.
Apakah yang dimaksud dengan garam? Garam ialah KASIH. Dalam Surat Kolose 4:6 mengatakan, "Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang." Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa penuh dengan kasih, karena jika tanpa kasih dalam hidup kita, maka kita sama dengan garam yang kehilangan rasa asinnya, yakni menjadi hambar. Dan kasih yang Tuhan tuntut dalam kehidupan kita, hendaknya dipraktekan didalam kehidupan kita setiap hari, bukan hanya dalam waktu-waktu yang tertentu saja (Efesus 5:2). Mengapa demikian? Karena itulah perintah Tuhan, dan Tuhan Yesus sendiri telah melakukannya dengan tulus bagi kita. Ada beberapa kriteria orang yang memiliki KASIH di dalam kehidupannya, antara lain: ada ketulusan ketika mengasihi (Roma 12:9), menghormati (Roma 12:10), rajin dalam pelayanan, karena itu merupakan wujud kasih kita kepada Tuhan (Roma 12:11), tekun dan setia kepada Tuhan(Roma 12:12), menghasilkan perbuatan yang baik (Roma 12:13), menjadi berkat bagi sesama (12:14-15), suka bersekutu dan tidak sombong (Roma 12:16), tidak menyimpan kesalahan orang lain (Roma 12:17-21), tidah mengucapkan kata-kata yang kotor (Kolose 3:9), dan tidak saling mendustai (Kolose 3:9). Karena jika kasih ada didalam kita, maka kita perkataan Kristus selalu mewarnai hidup kita (Kolose 3:16) sehingga kita senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan dan melalui perkataan kita nama Tuhan semakin ditinggikan (Yakobus 3:9-10).
Oleh sebab itulah KASIH harus ada didalam kehidupan kita setiap hari karena jika tidak, maka kita sama seperti garam yang hambar, sehingga tidak ada gunannya, dan pada akhirnya dibuang dan diinjak-injak orang (lihat Wahyu 11:2).
Maka dari itu, "perhatikan dengan sungguh kehidupanmu. (Efesus 5:15,16)

Indahnya Pengampunan

Dalam Kej 50: 15-21 dikisahkan mengenai Yusuf. Yusuf adalah anak yang disayang oleh Yakub tetapi sangat dibenci oleh kakak-kakaknya. Ia dijual, dijadikan budak oleh kakak-kakaknya karena mereka iri kepada Yusuf. Namun semuanya itu dijalani dengan penuh kesabaran dan iman kepada Tuhan. Setelah menjadi budak dan dipenjara, ia menjadi orang yang dipercaya oleh Firaun untuk mengelola Mesir. Saat itu semua saudara-saudaranya berbalik kepadanya dan meminta tolong kepadanya. Adalah haknya untuk mengampuni saudaranya atau tidak. Mereka memperlakukannya dengan buruk, orang akan berpikir wajar saja bila ia tidak mengampuni mereka. Tetapi Yusuf ternyata mengampuni saudaranya. Hal itu dilakukannya karena ia tahu akan rencana Tuhan atas hidupnya dan karena ia tahu dan taat akan perintah Tuhan. Begitu pula kita, mungkin kita telah disakiti oleh seseorang, adalah pilihan kita untuk mengampuninya atau tidak. Karena tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa Tuhan kehendaki. Selain dengan sesama kita juga harus sadar akan kesalahan dan dosa-dosa kita. Kita harus meminta ampun kepada Tuhan atas apa yang kita perbuat. Bila kita tidak mau mengampuni orang lain maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita. Ketika manusia berdosa, manusia mulai mengalami kesusahan demi kesusahan. Sering kali kita juga jadi jauh dari Tuhan. Allah sering kali digambarkan sebagai Bapa yang menunggu anak-anakNya kembali kepadaNya. Tetapi sering kali kita mengeraskan hati untuk kembali kepadaNya. Kita sering merasa bahwa Tuhan akan selalu tahu dan mengerti kita. Kita juga selalu berpikir bahwa kesempatan yang kita punya sangat banyak, kita dapat bertobat nanti, besok atau bulan depan dan sebagainya. Kita seringkali tidak sadar bahwa mungkin inilah saat terakhir kita sehingga semuanya terlambat dan kita tidak dapat mengulanginya. Kita hanya bisa menyesal. Jangan sampai kita terlambat untuk bertobat! Jangan pula kita terlambat untuk mengampuni dan meminta ampun kepada Tuhan.